Peningkatan Efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara Kalori Rendah

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional, sektor ketenagalistrikan masih bertumpu pada pembangkit  tenaga  listrik  berbahan  bakar  batubara. Data realisasi bauran energi primer tahun 2016, yang menjadi basis penyusunan RUPTL 2017-2026, menyebutkan bahwa dari total kapasitas pembangkit listrik milik PLN dan IPP sebesar 51.915 MW, sebanyak 23.206 MW atau sekitar 44,7 % merupakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Hal tersebut menyebabkan energi primer batubara masih mendominasi bauran energi primer untuk pembangkitan tenaga listrik sebesar 54,6 %.

Selain daripada itu, dalam draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2015-2034, yang menjadi acuan rencana pengembangan sektor ketenagalistrikan  jangka  panjang,  energi  primer batubara juga masih akan terus mendominasi bauran energi   primer   untuk   pembangkitan   tenaga   listrik. Dimana pada tahun 2025, target bauran energi primer batubara untuk pembangkitan tenaga listrik adalah sebesar 50%.

Porsi penggunaan energi primer batubara yang relatif besar pada bauran energi sekarang ini maupun pada perencanaan bauran energi di masa yang akan datang, disebabkan ketersediaan batubara kalori sedang dan kalori rendah yang melimpah, serta prinsip pengembangan pembangkit listrik nasional yang mengacu pada UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yaitu prinsip biaya penyediaan listrik terendah namun dengan tetap memperhatikan kecukupan daya dan tingkat keandalan daya yang baik. pada perencanaan bauran energi di masa yang akan datang, disebabkan ketersediaan batubara kalori sedang dan kalori rendah yang melimpah, serta prinsip pengembangan pembangkit listrik nasional yang mengacu pada UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yaitu prinsip biaya penyediaan listrik terendah namun dengan tetap memperhatikan kecukupan daya dan tingkat keandalan daya yang baik.

Jumlah pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara yang sangat besar pada sistem ketenagalistrikan nasional, menyebabkan kinerja PLTU memberikan pengaruh yang signifikan pada penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tingkat efisiensi pembangkit yang dipengaruhi jumlah bahan   bakar   yang   dikonsumsi   berpengaruh   kuat terhadap Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik, dan kemudian  berkaitan  erat  pula  dengan  beban  subsidi listrik yang harus ditanggung oleh Pemerintah. Dengan demikian, efisiensi pembangkit secara tidak langsung menjadi salah satu materi bahasan yang terkandung dalam penyusunan APBN.

Dalam  Rencana  Strategis  Sektor  Energi  dan Sumber Daya Mineral yang dituangkan dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2015, pengendalian subsidi listrik dan penekanan Biaya Pokok Produksi Tenaga Listrik merupakan salah satu poin Rencana Strategis  sektor  ESDM  yang  telah  digariskan.  Oleh karena itu, Pemerintah berupaya mengendalikan beban subsidi listrik dan menekan BPP Tenaga Listrik  yang saat ini dirasa masih cukup tinggi antara lain dengan cara  memantau  efisiensi  pembangkit-pembangkit tenaga  listrik  berbahan  bakar  fosil  serta  memilih teknologi konversi energi listrik yang lebih efisien dalam rencana pengembangan pembangkit ke depannya.Berkenaan dengan hal tersebut, penting bagi Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Batubara, termasuk di dalamnya Low Rank Coal Fired Power Plant untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan tingkat efisiensi produksi kWh listrik-nya selain tetap menjaga keandalan operasi dari pembangkit listrik tersebut.

Pemerintah menyadari bahwa upaya peningkatan efisiensi batubara bagi operator pembangkit merupakan upaya   yang   tidak   tidak   mudah   karena   solusi peningkatan efisiensi sering merupakan solusi yang bukan padat karya tapi juga padat teknologi dan padat modal.   Karena   itu   upaya   peningkatan   efisiensi  pembangkit batu bara merupakan upaya yang berkesinambungan serta memerlukan sinergitas antara operator pembangkit selaku pelaku usaha, serta perusahaan manufaktur sebagai penyedia teknologi dan peralatan yang memadai untuk perbaikan efisiensi.

Kegiatan  Focus Group Discussion dengan  tema “Peningkatan Efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara Kalori Rendah “ yang diselenggarakan di Hotel Grand  Zuri Tangerang tanggal 10 dan 11 Agustus 2017 ini bertujuan dapat menjadi wadah komunikasi antara operator pembangkit, industri penyedia peralatan pembangkit, serta regulator untuk mengidentifikasi tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam upaya peningkatan efisiensi pembangkit batubara serta diharapkan mengidentifikasi teknologi yang tepat guna sebagai solusi peningkatan perbandingan produksi kWh listrik yang   dihasilkan terhadap  jumlah  kilokalori batubara yang dikonsumsi. Pada kesempatan ini, inspektur ketenagalistrikan juga mengundang sebagai pembicara antara lain Direktur Operasi II PT Pembangkitan Jawa Bali, Manajer Bidang Serifikasi Sistem Pembangkit PT PLN (Persero) Pusat Sertifikasi, Manager Turbine Plant Group Power System Service Headquarters of Mitsubishi Hitachi Power System Ltd (MHPS Japan) dan Sales Manager Promecon Asia Pacific.